BAB II
Meldixie meringis menahan terik matahari, dia bergegas
memasuki halaman gedung baru Lonal Universe, tangan kanannya menggenggam erat
secarik kertas putih berlogo burung hantu dengan mahkota sembilan bintang emas
berkilauan. Logo Lonal Universe. Mendadak senyum Meldixie terkembang, raut
mukanya secerah cuaca di Bulan Juli, matanya tak beranjak dari papan pengumuman
di tengah halaman itu. Acara inagurasi jatuh pada hari ke tujuh di bulan kedua
tahun ini. Dan itu berarti tiga minggu lagi.
Sebenarnya Meldixie hanya meyakinkan diri saja. Surat yang
diterimanya kemarin sore sudah mengabarkan terlebih dulu kabar bahagia itu,
namun ia merasa tidak puas bila tak melihat langsung pengumuman di rotunda
Lonal Universe. Sebagai salah seorang pengajar, Inagurasi adalah sebuah
prestasi sendiri baginya. Setelah inagurasi ini, Meldixie sudah bisa memegang
murid-murid berbakat yang siap diberikan ilmu olah jiwa sesuai dengan
keahliannya. Meldixie adalah pengajar pada Ordo Holapoursa yang berorientasi
penyembuhan orang sakit. Dia sangat menyukai keahliannya, lebih humanis,
baginya sangat mulia orang yang membantu
penyembuhan penyakit dan meringankan beban penderitaan orang lain.
Selain Holapoursa, masih ada delapan ordo lainnya yang
tergabung di Lonal Universe. Ada Ordo Fixarsity yang mengajarkan cara mengusir
roh jahat dari tubuh orang dewasa. Ordo Otramsity mengajarkan cara mengusir roh
jahat dari tubuh anak-anak. Ordo Konartaxy mengajarkan cara pengendalian diri, Ordo
Bancoursa mengajarkan cara penghapusan dosa, Secret Order mengajarkan cara
menguak rahasia kuno, Ordo Trancturior melatih murid menjadi ksatria tangguh
yang siap berperang, Ordo Documene mengajarkan cara menyimpan rahasia abadi,
dan Ordo Ecospara mengajarkan muridnya cara berbicara dengan binatang .
Kesembilan ordo itu mempunyai kelebihan masing-masing. Para pengajar di setiap
ordo haruslah menjadi Saudara. Persaudaraan setiap ordo inilah yang dikehendaki
Lonal Universe. Tujuannya hanya satu, menciptakan persaingan sehat tanpa syak
wasangka di setiap ordo untuk membina murid-murid yang berkemampuan dan bijak
bestari.
Awalnya Meldixie tak peduli dengan semua kata-kata jumawa
Sang Raha, bagi Meldixie sudah sangat bersyukur dia dapat bergabung dibawah
bendera Lonal Universe. Meski kini tengah banyak kasak kusuk tak sedap tentang
Sang Raha, sungguh Meldixie tak ambil pusing. Meski usianya baru diawal kepala
tiga, mata bathin Meldixie sangatlah bening, selain itu ia pun dianugerahi
sepasang telinga sebagai indera pendengaran yang sangat peka. Ia dapat
mendengar dengan jelas gumaman seseorang dalam satu ruangan yang sama.
Sebuah tepukan halus mengagetkan lamunan Meldixie. Segera ia
berbalik memunggungi papan pengumuman itu, matanya bersirobok dengan seorang
laki-laki muda berseragam sama seperti dirinya. Tampangnya cengengesan, mukanya
berkeringat, rupanya ia telah berlari lari kecil menuju halaman rotunda itu
saat mengetahui Meldixie ada disana.
“Hai....” sapanya
“Torosiannnnn...... apa kabar?” Meldixie setengah menjerit
senang menatap laki-laki itu
“hehehe... kamu ngapain panas-panasan disini? Jadwal
inagurasi ya? Wahhhh..... hebattt...” Torosian tak memperdulikan pertanyaan
Meldixie, dia malah segera memberondongnya dengan pertanyaan lain
“ah kau ... mentang-mentang sudah, ngeledek deh....”
“oh... No... bukan itu, aku sungguhan kok, Selamat ya....”
tampang Torosian tulus, tangannya terulur ke arah Meldixie, Meldixie menyambut
hangat, senyumnya terkembang, dia tahu Torosian bisa dijadikan sahabat, bisa
diandalkan. Meldixie merasa tidak perlu menggunakan indera keenamnya untuk
mengetahui kejujuran laki-laki yang satu ini.
Meldixie masih ingat jelas saat pertama ia bertemu Torosian.
Waktu itu Meldixie masih berstatus Asisten Professor Zara, dan Torosian menjadi
Asisten Professor Tadata Sancturia. Keahlian Torosian sebagai penguak rahasia
kuno dan simbolog membuatnya segera mendapatkan inagurasi setelah Professor
Sancturia menjabat sebagai Pimpinan Lonal Universe. Kesibukan Prof. Sancturia
membuatnya tidak bisa mengajar murid-murid lagi, karena hal ini seluruh mandat
mengajar Prof. Sancturia dengan sendirinya jatuh pada Torosian. Akan halnya
Meldixie, meski keahliannya sebagai penyembuh orang sakit tidak pernah meragukan
siapapun, ia mesti menunggu sampai Professor Zara “tidak mampu” untuk mengajar
lagi. Hal ini sudah sangat lumrah terjadi di Lonal Universe, dimana proses
kaderisasi akan terbentuk dengan cara yang senatural mungkin. Jika bukan karena
sang senior yang meninggal dunia, kaderisasi akan terjadi jika sang senior
sudah merasa tidak mampu karena keterbatasan yang menyebabkan ia tidak dapat
mengajar lagi.
“Sudah tahu kabar terkini?” lagi-lagi Torosian mengagetkan
Meldixie, mereka sudah berjalan beriringan meninggalkan halaman rotunda menuju
koridor gedung lama.
“Oh... apa itu?, maaf dari kemarin aku mabuk euforia karena
jadwal inagurasi ini, berita apa memangnya?”
“Professor Adibar meninggal semalam.” Torosian menekan
suaranya sedemikian dalam, seolah takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
“APAAA? ...... Professor Natticulo Adibar? ....... Semalam?
Kenapa? Tak mungkin.... masa kantor berita Lonal Universe tidak
mengabarkannya....” terengah-engah Meldixie menahan nafas dan mengurangi volume
suaranya melihat Torosian menempelkan telunjuk di atas bibirnya.
“Masih dirahasiakan, Professor Sancturia tidak menginginkan berita ini tersiar sebelum pembunuhnya terungkap.”
“Pembunuh? Apa maksudmu? Professor Adibar dibunuh? Untuk apa?...” lagi-lagi suara Meldixie tercekik melihat mata Torosian yang mendelik menyuruhnya menahan diri.
“Bisa lebih tenang sedikit tidak? Sengaja kau kuberitahu karena kupikir kau sebentar lagi akan menerima inagurasi, kita akan bersaudara, tapi kalau kau tak mampu mengontrol diri lebih baik nanti saja kau kuberitahu, setelah kau mengucap sumpah di inagurasi.”
“Oh... jangan begitu Torosian, aku mohon maaf, hanya terkejut saja. Jadi ini masih rahasia Lonal Universe, tapi kenapa harus merahasiakannya? Bukankan kalau diumumkan keluar semua pihak bisa membantu mencari siapa pembunuh Professor Adibar? Meldixie mencecar Torosian.
“Justru itu, Professor Sancturia curiga, orang dalamlah yang membunuhnya....”
******
